Catch Me If You Can (Part 1)

Like the moon in the sky

You will make your head up

Just to see it

My charm…

= Marcus =

29 March 2012

Dimulai pada tanggal ini, semuanya berubah. Kepolisian Seoul tidak hanya akan disibukkan oleh kasus bunuh diri, pencurian dan perampokan.

Tapi dengan isu baru. Seseorang yang datang dengan ketampanan, kecerdasan juga keinginan tersembunyi. Seseorang yang akan membuat orang lain mengaguminya sekaligus iri hanya dengan sekali pertemuan singkat.

Dia bernama… Marcus.

Seoul, 09.00 AM

Author POV

Kepolisian pusat Seoul tampak sedikit lebih sibuk daripada hari biasanya, tepatnya dibagian investigasi.

Lagi-lagi mereka mendapat surat ancaman dari ‘Marcus’ dan ini sudah yang ketiga kalinya. Entah bisa disebut sebagai ancaman atau tidak, karena isinya terlalu biasa.

‘Malam ini akan ada yang hilang, hmm.. Apa aku harus mengatakan tempatnya? KINTEX. Kekeke selamat bersenang-senang… ^^’ -Marcus-

Marcus. Nama itu mendadak terkenal di Seoul akhir-akhir ini, tentu dia bukan penyanyi atau artis yang baru debut. Namun karena semua pencurian yang dia lakukan. Tapi sepertinya tidak bisa disebut pencuri juga karena dia akan mengembalikan semua barang yang telah diambilnya. Aneh sekali.

Dan ada yang menganggap kalau dia sedang mempermainkan kepolisian Seoul dan Marcus hanyalah anak kurang kerjaan yang ingin diperhatikan.

Walau banyak asumsi tentang pria itu, dia bisa disebut jenius. Jenius karena dia dapat mencuri dengan menyusup yang terang-terangan sedang dijaga ketat oleh hampir ¼ anggota kepolisian di Seoul.

Dan anggapan baru muncul. Kalau dia menyamar saat melakukan aksinya itu dan benar-benar membuat Kepolisian Pusat Seoul kewalahan.

Hyo-Hwa’s Pov

Aku kembali membaca kertas putih berukuran 8×5 cm itu dengan seksama, mungkin ada pesan lain dari pencuri sialan ini.

Tapi, memang tidak ada makna lain dari setiap kalimat ini. Menyebalkan! Aku melihat sekelilingku yang mulai sibuk bersiap-siap ketempat yang dikatakan oleh… si Marcus ini.

Menyebut namanya saja sudah membuatku malas. Dia terlihat sangat meremehkan kepolisian Seoul menurutku dan terlihat sedang mempermainkan kami.

Walaupun aku detektif baru dan baru saja masuk kerja hari ini, kasus seperti ini membuatku sangat kesal.

Awas saja! Aku pastikan kali ini dia tidak akan lolos.

Aku mengambil tas sampingku dan memakainya cepat, mengikuti seniorku menuju tempat kejadian perkara itu yang pasti sudah sangat ramai. Bukan hanya karena anggota polisi dan detektif tapi juga para gadis remaja itu.

Heh, kudengar dia sangat populer diantara anak gadis sekolahan itu. Entah apa yang mereka lihat. Katanya pria itu sangat keren? Seperti karakter tokoh komik yang sering mereka baca. Kaito Kid. Cih, yang benar saja.

Lihat saja, malam ini aku akan menangkapnya. Tidak akan ada pembenaran untuk suatu kesalahan. Walaupun dia mengembalikan semua barang curiannya itu. Kesalahan selamanya akan tetap menjadi kesalahan.

Author’s POV

KINTEX, 08.00 PM


Penjagaan ketat terlihat diseluruh gedung KINTEX saat ini. Gedung berlantai tunggal, tempat melakukan pameran dengan skala besar. Dan ada satu tempat yang dijaga penuh oleh para polisi dan detektif itu sekarang adalah tempat dimana lukisan monalisa dipajang.

Bukan tanpa alasan sebenarnya, karena memang itulah tujuan dari Marcus, sesuai dengan pesan yang ditinggalkannya dilukisan itu.

Senyuman yang terkubur oleh satu kesakitan

Kesakitan yang tidak pernah diketahui oleh seorangpun

Permata yang hilang bersamaan dengan senyuman

= Marcus =

Hyo-Hwa’s POV

Senyuman, kesakitan dan permata.

Apa maksudnya? Aku kembali menatap lukisan monalisa didepanku. Wajah pucat dengan senyuman misterius. Permata yang hilang? Apa yang dimaksud adalah senyumannya? Lalu apa maksudnya dengan kesakitan?

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan mendecak sebal. Pasti ada maksud lain kan dari pesan ini. Seperti… Petunjuk misalnya?

“Sudah, sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Kau mau cepat tua karena stress?”

Aku menoleh mendengar suara familiar wanita itu yang sedang berdiri disampingku sambil menyodorkan kopi hangat.

Tidak membalas perkataannya, aku mengambil gelas kopi ditangan kanannya tanpa meminumnya.

“Apa ada maksud lain dari pesannya?” tanyanya sesuai dengan pikiranku.

Kim Ji-Hyun, dia seniorku. Kami sudah berkenalan dari saat masa akademi dulu dan dia adalah sahabat sekaligus saudara bagiku.

Dia itu tipe wanita baik-baik yang mau melakukan apapun demi orang yang disayanginya. Hampir seperti martir. Tapi kalau martir orang yang mau mengorbankan nyawa demi agama, maka dia orang yang mau mengorbankan nyawa demi menyelamatkan orang lain.

Terlalu baik, menurutku. Dia menyeruput pelan kopinya, masih memperhatikan lukisan monalisa didepannya.

“Menjadi monalisa itu menyedihkan ya?” ujarnya lagi, yang entah bisa disebut pertanyaan atau pernyataan.

“Kenapa?” tanyaku balik, mengikuti gayanya yang meminum kopi pahit ditanganku. Ah, sial. Aku tidak suka rasa pahit yang menguar dari biji kopi ini, kenapa tidak dicampur dengan susu dan gula saja?

Rasa pahit kopi seperti mengambarkan sisi gelap manusia yang tidak diketahui oleh siapapun sebelum meminumnya. Walau baunya harum tetap saja rasanya pahit, kejahatan mendasar yang selalu ada pada diri manusia. Tapi, bisa disamarkan dengan gula atau susu untuk memaniskannya. Begitu juga manusia jahat yang bisa menjadi baik. Tapi, tetap saja dasarnya hitam.

“Senyumannya sangat misterius, seperti ada sesuatu yang lain. Malah hampir bukan seperti senyuman.” Ujar Ji-Hyun onnie membawaku kembali kedunia nyata setelah pikiranku sudah melayang entah kemana karena meminum sedikit cairan penuh kaffein ini.

“Mungkin dia lupa caranya tersenyum.” Jawabku asal.

Ji-Hyun onnie tersenyum tipis dan menatapku. “Memangnya ada hal seperti itu?” tanyanya. Terkesan mengejek ditelingaku.

“Kau terlalu banyak membaca novel.” Sambungnya lagi, membuatku semakin kesal.

“Aku mau kembali kekantor. Dan kau, jangan membuat keributan dihari pertamamu bekerja. Detektif Park~” ujarnya lagi mengejekku.

Aku merengut kesal dan dia hanya membalasnya dengan senyumannya yang terlalu manis itu. Apa aku mendaftar menjadi penggemarnya saja? Ji-Hyun onnie itu benar-benar calon istri yang ideal. Cantik, baik, pintar dan kaya. Membuat iri saja!

*****

Mona Lisa, atau La Gioconda. Lukisan karya Lionardo da Vinci pada abad ke-16. Banyak yang memperdebatkan masalah senyuman wanita dilukisan ini yang dianggap sangat misterius.

Lisa Gherardini, nama wanita dalam lukisan ini. Ada yang menyebutkan dia adalah ibu dari Lionardo da Vinci tapi tidak terbukti sampai sekarang.

Kalau benar Marcus akan mencuri lukisan ini berarti dia akan mengulang kejadian yang sama pada tahun 21 Agustus 1911 yang lalu. Sama seperti yang dilakukan oleh Vincenzo Peruggia, seorang pekerja museum yang dengan gilanya berani mencuri lukisan elit ini dan akhirnya menjadi tersangka tunggal.

Walaupun sebenarnya banyak yang mencurigai tentang motif lain dibalik pencurian lukisan ini. Maksudku tujuan utamanya bukanlah lukisannya, tetapi The Sancy Diamond.

Berlian 55 karat yang dipotong dalam bentuk buah pir dan pertama kali dimiliki oleh Charles, Duke Bold dari Burgundy, yang kalah dalam pertempuran di tahun 1477.

Batu ini sebenarnya dimiliki oleh, Seigneur de Sancy, Duta Besar Prancis yang berada di Turki pada abad 16 akhir. Dia meminjamkannya kepada raja Prancis, Henry III yang memakainya dalam topi untuk menyembunyikan kebotakan nya.

Henry IV dari Perancis juga meminjam batu dari Sancy, tapi dijual pada tahun 1664 ke James I dari Inggris. Pada tahun 1688, James II, raja terakhir dari Stuart dari Inggris, melarikan diri membawa berlian itu ke Paris. Dan berlian ini menghilang selama revolusi Prancis.

Lukisan monalisa ini berasal dari Museum Louvre Prancis, jadi analisa ini mungkin saja benar. Dan kalau benar Marcus akan melakukan aksinya malam ini seharusnya dia sudah berada disini sekarang.menunggu waktu paling tepat untuk mengambil lukisan monalisa atau mungkin The Sancy Diamond.

*****

Hanya ada 3 orang selain aku dan inspektur Kim Jong-Min yang bisa dengan mudah mendekati lukisan Monalisa dengan mudah. Tiga orang yang mungkin saja diantara mereka ada yang menyamar.

Pertama, pemilik gedung KINTEX ini. Kim Jung-Il, pria berumur 62 tahun yang langsung berteriak saat pertama kali datang, nyaris membuat Insperktur Lee Hyun-Bin membatalkan misi ini dan membiarkan Marcus untuk mencuri lukisan wanita Paris itu.

Kedua, putranya. Kim Jung-Hyun. Pria berumur 27 tahun yang hanya menebarkan pesonanya ditempat ini. Dia bahkan tidak peduli sama sekali dengan semua kekacauan ini. Hanya ingin mengajak salah satu polisi wanita untuk berkencan dengannya malam ini.

Dan yang terakhir, pengacara keluarga mereka. Lee Joon Ki, umur 28 tahun. Dialah satu-satunya pria yang terlihat lebih manusiawi daripada dua orang aneh itu. Pengacara Lee terkesan lebih ramah dan sering tersenyum dengan beberapa anggota kepolisian lainnya.

Aku tidak mencoba berbaur diantara mereka, memperhatikan mereka dari jauh sepertinya bisa membuatku lebih mudah dalam menganalisa sifat mereka.

“Ini sudah jam 9 malam, kapan pencuri itu akan datang?” Tanya tuan Kim Jung-Il sedikit berteriak.

Semoga saja malam ini suasana hati inspektur Kim sedang dalam keadaan sangat baik sampai tidak perlu meladeni kemarahan tak berlasan pria tua itu.

Baru saja inspektur Kim akan menjawab perkataannya saat tiba-tiba suara sirine berbunyi membuat semua anggota kepolisian yang awalnya berdiri diluar masuk memenuhi seluruh ruangan ini.

“Siapa yang membunyikan sirine?” Tanya inspektur pada seluruh anak buahnya, tapi tidak ada satupun yang menjawab.

Sial. Marcus mungkin sekarang sudah berbaur diantara anggota kepolisian itu.

Sirine hanya boleh dibunyikan jika salah satu dari kami mengetahui keberadaan Marcus dan bagaimana dia bisa mengetahui hal itu?

Mungkin saja. Jika ada pengkhianat diantara anggota kepolisian saat ini.

“Anyeonghaseyo pengacara Lee..” sapa seorang pria anggota kepolisian pada pengacara muda itu.

Pengacara Lee agak terkejut awalnya, namun dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi ramah kembali.

“Lama tidak bertemu.” Ujar polisi itu lagi sopan terdengar sangat akrab. Dan ekspresi yang dikeluarkan oleh pengacara itu adalah ‘Apa aku mengenalnya?’

“Anda sudah lupa padaku?” Tanya polisi itu lagi, menangkap ekspresi sang pengacara. “Dulu kita adalah tetangga saat anda masih kuliah.” Sambungnya lagi menjelaskan.

“Aaah~ iya. Maaf, ingatanku sedikit pikun akhir-akhir ini.” Jawab pengacara Lee merasa tidak enak.

“Tidak apa-apa. Mungkin karena terlalu lelah. Tapi, aku sedikit terkejut anda bisa lupa padahal kita bertetangga hampir 5 tahun bukan?”

“Ah. Iya” jawab pengacara Lee sedikit terkejut saat mendengar kata ‘5 tahun’.

Normalnya, ingatan manusia akan memburuk saat memasuki umur 50 tahun keatas jika menyangkut mengenali wajah seseorang. Tidak mungkin dia bisa lupa semudah itu apalagi setelah mengenal hampir 5 tahun.

Seseorang yang sangat ramah dan selalu menyapa lebih dulu sepertinya bisa melupakan temannya yang tinggal bersebelahan rumah dengannya. Aneh sekali bukan?

“Menurut anda apa Marcus akan datang?”

Ekspresi pengacara Lee Joon-Ki langsung berubah dari gugup menjadi sangat tenang saat mendengar pertanyaan itu. Dia terlihat sangat percaya diri untuk suatu hal yang tidak kumengerti apa.

“Tidak tahu.” Jawabnya tenang sambil melihat jam tangan dipergelangan kirinya.

“Apa dia akan membawa lukisan dengan lebar 53 cm dan panjang 77 cm itu?”

“Mungkin…” jawab pengacara berkaca mata minus itu ragu.

“Mungkin?” Tanya polisi itu lagi.

“Atau mungkin dia mengincar sesuatu dibalik senyuman Nyonya Lisa Gherardini itu. Seperti…” ujarnya menggantungkan kalimatnya.

“Seperti?” Tanya polisi itu penasaran.

“The Sancy Diamond…”

Apa?

Tik….

Tepat saat dia mengatakan The Sancy Diamond lampu ruangan ini mati. Seluruh ruangan tampak gaduh dengan suara yang bahkan tidak kumengerti sama sekali. Semua berbicara, berjalan dan menabrak dalam kegelapan ini.

Tidak ada yang pernah menanggapi pernyataan Vincenzo Peruggia, pencuri lukisan monalisa itu. Tentang adanya berlian berbentuk buah pir yang disembunyikan dibalik lukisan ini, dan dia hanyalah suruhan dari seseorang.

Pengalihan isu, kata mereka. Dia hanya mencoba berbohong agar dilepaskan dari kesalahannya.

Sama seperti isu yang beredar kalau sebenarnya Mona Lisa dalam lukisan ini adalah ibu dari Lionardo Da Vinci. Itulah makna senyumannya, senyuman tulus seorang ibu untuk anaknya.

Tidak sampai 5 menit, lampu kembali menyala dan lukisan itu masih berdiri ditempatnya. Tidak bergeser sedikitpun.

Tiga orang yang kucurigai tadi. Aku melihat kesekeliling ruangan dan… Pengacara Lee Joon-Ki sudah tidak berada disini lagi.

Jadi kau sudah mengambilnya, tuan pencuri?

“Inspektur Kim, apa itu?” ujar salah seorang polisi menunjuk kearah lukisan Mona Lisa itu.

Aku mendekati lukisan itu dan lagi-lagi melihat kertas putih kecil berukuran 10×10 cm. Dengan pesan singkatnya lagi, ciri khas pencuri itu.

Like the moon in the sky

You will make your head up

Just to see it

My charm…

Lagi-lagi kata-kata aneh. Tapi, apa tulisan ini tidak terlalu rancu?

Moon, sky, see…

Atap? Mungkin sekarang dia berada diatap kan?. Lebih baik gagal daripada hanya berdiam disini. Aku sudah melihat bagian belakang lukisan ini dan ada sedikit robekan dengan benda tajam yang sangat rapi. Dia pasti sudah mengambilnya, permata yang hilang.

*****

KyuHyun’s POV

“Iya.” ujarku cepat saat mengangkat teleponku.

“Kau sudah selesai?” Tanya eunhyuk terdengar terkejut dari suaranya.

“Iya..” jawabku sambil melepas kacamata dan topeng yang kupakai dari tadi ini. “Kau bisa berangkat sekarang.”

“Oh~ tentu saja. aku sudah lama ingin mencoba menerbangkan helikoptermu itu. Kyunie~”

“Cih. Berhenti memanggilku dengan nama menjijikkan itu.” Ujarku berpura-pura muntah.

“Hahaha… Iya, iya. Aku akan berangkat sekarang…” Ujarnya terputus.

Oh, ayolah. Dia tidak akan mengatakannya lagi kan? karena aku tidak yakin kalau aku mendengarnya lagi apa aku akan muntah atau tidak.

“Kyunie~” katanya lagi, mengacuhkan perkataanku tadi.

“Sialan kau.”

Eunhyuk nampak tertawa keras sebelum memutus sambungan teleponnya. Benar-benar menjengkelkan.

Maaf pengacara Lee Joon-Ki, kau harus banyak beristirahat dan membiarkanku menggantikan posisimu hari ini.

Pengacara Lee, aku sudah menidurkannya diapartemennya yang nyaman itu. Dengan obat tidur tentunya, berhubung dia bukan bayi yang akan tidur saat meminum susu.

Aku hampir takut saat polisi itu menyapaku tadi, bisa gawat urusannya kalau aku ketahuan secepat itu. Untung saja tidak ada yang menyadarinya.

Tapi, jujur saja aku merasa ada yang memperhatikanku sejak tadi dan anehnya aku tidak tahu siapa.

Biasanya instingku bisa dengan cepat menangkap seseorang yang sedang membuntuti atau memperhatikanku, bahkan untuk jarak 10 meter sekalipun. Dan kali ini aku bahkan tidak bisa mendeteksinya, yang sepertinya memperhatikanku dari jarak kurang dari 5 meter.

Kacamata yang sangat berguna, membuatku lebih mudah dalam melakukan misiku malam ini. Kerjanya hampir sama seperti mata kucing, namun dia tidak bercahaya ditengah kegelapan.

Dan… The Sancy Diamond.

“Alasan sebenarnya dari senyuman Nyonya Lisa Gherardini adalah karena dia akan diberikan berlian seindah ini sebagai bayarannya. Seorang istri dari pengusaha kaya tidak mungkin bersedia untuk menjadi patung selama berjam-jam tanpa bayaran yang menggiurkan.” Ujarku masih menatap berlian ditanganku.

“Kau salah. Tuan Marcus”

Author POV

KyuHyun tersentak kaget saat mendengar suara seseorang dibelakangnya. Tidak membalikkan tubuhnya, dia masih bertahan dengan posisinya. Tipe orang yang sangat berhati-hati dalam bertindak.

“Angkat tanganmu dan balikkan tubuhmu secara perlahan. Tuan Marcus.” Perintah detektif Park, dia sudah mengangkat senjatanya dari tadi. Marcus bukanlah pencuri kacangan, jadi setidaknya dia harus lebih berhati-hati.

Hyo-Hwa bisa menangkap tangan KyuHyun yang terangkat dan perlahan tubuhnya berbalik. Dan dia tersenyum sinis saat melihat ternyata pria itu sudah melepas topengnya.

“Alasan sebenarnya adalah karena yang melukisnya adalah anaknya sendiri. Tidak akan ada yang pernah bisa mengalahkan ketulusan senyuman seorang ibu untuk anaknya.”

“Itu hanya isu nona detektif…” komentar KyuHyun tenang. Terlalu tenang untuk kondisinya seperti saat ini.

“Uang adalah segalanya. Tidak pernahkah kau mendengarnya? Jangan bersikap terlalu naif.”

Hyo-Hwa hanya menatap dingin pria didepannya. Perlahan pria itu bergerak, mendekatinya.

“Jangan macam-macam, aku bisa menembakmu kapan saja.” ujarnya mencoba mengancam, walau ekspresi takut terlalu mendominasi wajahnya sekarang.

“Benarkah?” Tanya KyuHyun, semakin mendekati Hyo-Hwa.

“Kode etik pertama. Jangan melukai saksi sekaligus tersangka.” Ujar KyuHyun mendekat dan berdiri tepat didepan wanita itu.

Tangannya masih terangkat keatas, tapi posisi mereka sekarang terlalu dekat. Hyo-Hwa bahkan bisa merasakan nafas pria itu. Bau mint dan manis yang sangat kentara.

“Aku menghargai keberanianmu, nona detektif. Tapi sepertinya permainan detektif-detektifnya kita hentikan saja sampai disini.”

KyuHyun meraih tangan Hyo-Hwa ingin merebut pisto ditangan kanannya saat tiba-tiba saja angin berhembus terlalu kencang dan hampir menjatuhkan tubuh kecil Hyo-Hwa kalau KyuHyun tidak sigap menangkapnya.

Posisi atap gedung KINTEX memang tidak terlalu lurus dan sedikit melengkung dibagian tengahnya, dan wanita itu bisa dikatakan terlalu berani untuk datang kesana sendirian.

Tubuh KyuHyun sedikit terhuyung saat menangkap pinggang wanita itu, membuat tubuhnya ikut limbung dan jatuh.

Hyo-Hwa meringis merasakan sakit dibagian punggungnya tapi sedetik kemudian mendadak dia merasa gugup saat menyadari bahwa tangan seseorang dipinggangnya.

Dan tepat saat dia membuka matanya dia menangkap wajah pria dingin itu sedang menatapnya khawatir. Yang benar saja? Bukankah seharusnya dia kabur disaat yang tepat tadi.

Mata pria itu terlalu fokus menatap mata Hyo-Hwa, dia hanya merasa pernah melihatnya. Seolah-olah dia sangat familiar dengan mata itu.

KyuHyun masih menatap mata wanita itu lekat saat tiba-tiba saja wanita itu berkedip dan menyadarkannya kalau dia harus kabur dari tempat ini secepatnya, sebelum wanita ini memanggil bantuan pada temannya dan menangkapnya.

Tepat saat KyuHyun mengangkat tubuhnya tangan gadis itu bergerak menahan lengannya.

“Peraturan pertama tuan Marcus. Jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.”

KyuHyun masih bingung dengan perkataan Hyo-Hwa saat tiba-tiba saja dia merasakan sebuah benda tajam menusuk lengannya.

Praktis tubuhnya berguling kesamping sambil menahan sakit dilengan kanannya dan yang membuatnya semakin jengkel adalah kalau wanita itu ternyata menusuknya dengan sebuah pena.

Hyo-Hwa tersenyum penuh kemenangan mendengar jeritan tertahan KyuHyun yang tertusuk penanya itu. Bukannya tidak tahu balas budi, tapi ini masalah harga diri.

Dengan cepat Hyo-Hwa menarik tangan KyuHyun dan memborgolnya hanya dalam beberapa detik.

“Sial.” Umpat KyuHyun yang hanya disambut dengan senyuman manis oleh Hyo-Hwa.

Membuat pria itu menyesal karena sempat-sempatnya terpana untuk beberapa oleh mata wanita itu yang dipikirnya sangat familiar untuknya.

*****

Seoul 10.00 PM

Hyo-Hwa’s POV

Aneh. Sangat aneh bahkan.

Entah aku yang terlalu peka atau apa. Pria disampingku ini tidak menunjukkan ketakutannya sedikitpun. dia… terlalu tenang.

Dan sekarang rasa aneh semakin bertambah saat seluruh pegawai dikantor kepolisian Seoul melihatku seperti… Bagaimana menjelaskannya?

Ekspresi wajah mereka seperti baru saja melihat malaikat kematian. Takut. Bahkan beberapa pergawai yang sedang bercanda dengan temannya tiba-tiba terkejut dan berhenti bergerak. Dan sepertinya mereka lupa untuk bernafas.

Gedung ini dalam beberapa detik saja berubah nyaris menyerupai kuburan. Terlalu tenang.

Aku menekan tombol lift dan berdiri menunggu sampai pintu didepanku terbuka. Marcus masih terlihat tenang, tangannya bahkan tidak gemetar sama sekali.

Aku memang tidak mengenggam tangannya, hanya memegang pergelangan tangan. Takut dia akan kabur.

“Hyo-Hwa…” panggil seseorang yang sangat kukenal.

Aku menoleh kesamping dan melihat Ji-Hyun onnie tersenyum padaku sambil memeluk beberapa dokumen.

“Onnie belum pulang?”

Dia menggeleng ringan sambil tersenyum. Tapi, sedetik kemudian ekspresinya berubah 180 derajat. Aku bahkan belum pernah melihat ekspresi ketakutannya seperti itu.

Ekspresinya berubah setelah melihat Marcus, membuatku merasa semakin penasaran. Siapa pria ini sebenarnya?

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya setelah beberapa detik mengamati Marcus dan tangannya yang sudah kuborgol.

“Dia Marcus. Aku berhasil menangkapnya tadi.” Jawabku menjelaskan.

“Apa katamu!!” ujarnya nyaris berteriak. Atau bagaimana kalau kukatakan membentak saja. suaranya bahkan lebih mengerikan daripada suara eomma yang sedang memarahiku karena selalu menolak untuk dijodohkan.

“Dia Marcus.” Ulangku lagi.

Ting….

Pintu lift terbuka dan Marcus langsung masuk tanpa menungguku.

“Babo! Cepat lepaskan dia!!” perintahnya membuatku bertambah bingung.

“Kenapa? Aku sudah susah-susah menangkapnya. Kenapa aku harus melepaskannya?” bantahku hampir merengek karena kesal.

“Dia itu…”

“Sampai kapan kau mau disitu?” Tanya pria itu dari dalam lift memotong perkataan Ji-Hyun onnie. Aku menoleh kearahnya, dia menyandarkan tubuh tegapnya didinding.

“Liftnya sudah mau jalan.” Lanjutnya lagi.

Tidak melanjutkan perdebatanku, aku langsung masuk kedalam lift. Dan untuk beberapa detik sebelum liftnya tertutup aku bisa melihat mulut Ji-Hyun onnie yang masih terus mengomel dengan suara halus. Benar-benar membuat pusing saja.

Hanya beberapa menit kami sampai dilantai 7 tempat inspektur Kim Jong-Min. Entah karena terlalu terburu-buru atau memang keseimbanganku yang kurang baik aku hampir jatuh saat melangkahkan kakiku keluar lift.

Dan pria itu, dia selalu bersikap sigap saat aku akan jatuh sama seperti saat kejadian diatap tadi. Tangannya dengan cepat menahan bahuku dan membenarkan posisiku menjadi tegak kembali.

“Bodoh.” Desisnya. Bahkan terlihat enggan saat mengucapkannya.

“Terima kasih.” Jawabku sedikit tidak suka saat mengatakan hal baik begitu padanya. Tapi aku memang harus mengatakannya kan? dia sudah menolongku. Untuk yang kedua kali. Menyebalkan.

Author POV

Marcus tersenyum tipis, kemudian mengenggam ringan tangan wanita itu. Hyo-Hwa nampak terkejut dengan sikap pria itu yang terlalu tiba-tiba.

“Berjaga-jaga supaya aku tidak kabur” jelas pria itu dengan senyuman terkulum.

Mereka berjalan menuju meja kerja inspektur Kim, tentu saja semua pegawai menatap takut kearah mereka. Tapi bukan hanya takut, mereka juga penasaran. Melihat tangan mereka yang saling menggenggam.

“Inspektur Kim.” Panggil Hyo-Hwa saat melihat atasannya yang sedang sibuk dengan berkas yang menumpuk dimejanya.

“Apa?” Tanya inspektur Kim tidak melihat kearah wanita itu.

“Aku berhasil menangkap Marcus.” Ujar detektif muda itu cepat. Terdengar sangat senang saat mengatakannya.

“Benarkah?” Tanya inspektur Kim turut senang.

Dia mengangkat kepalanya, awalnya dia tersenyum tapi detik berikutnya ekspresi itu berubah 180 derajat. Ekspresi yang sama seperti tadi. Takut. Pria berumur 43 tahun itu bahkan hampir tersedak air liurnya sendiri sangking terkejut.

“Kepala kepolisian Cho?”

Hyo-Hwa masih tidak bereaksi, kepalanya masih mengeja kalimat terakhir yang diucapkan oleh inspektur Kim.

“Kepala kepolisian?” ulang wanita itu ragu.

Dia menatap inspektur Kim, masih setengah sadar. Dan inspektur Kim membalas tatapannya seperti sedang mengatakan ‘Tamat Riwayatmu.’

“Cepat buka borgol itu! “ perintah inspektur Kim kali ini. Dan wanita itu langsung menarik tangan KyuHyun dari jangkauan atasannya itu.

“Tidak mungkin aku melepaskannya inspektur Kim. Dia Marcus” bantah wanita itu malah menggenggam tangan pria itu dan menyembunyikan dibelakang tubuhnya.

“Kau ini. Kau mau dipecat saat ini juga? Kubilang cepat lepaskan!!” teriak inspektur itu kehilangan kesabaran.

KyuHyun tersenyum licik, kemudian menarik nafasnya untuk berbicara.

“Aku memang Marcus.” Ujar KyuHyun dengan suara tenang. Membuat semua orang yang berada ditempat itu terdiam seketika.

Dia tersenyum licik lalu melanjutkan ucapannya.

“Nama koreaku Cho KyuHyun dan nama inggrisku Marcus Cho. Bagaimana nona detektif?”

Hyo-Hwa menatap sengit pria disampingnya itu, seharusnya dia sadar dari awal kalau pria ini tidak akan mungkin akan kalah semudah itu. Permainan baru saja akan dimulai.

Salah satu anggota kepolisian datang dengan membawa kunci master dan membuka borgol ditangan KyuHyun dengan hati-hati.

KyuHyun sedikit menggerak-gerakkan pergelangan tangannya yang sedikit kram. Menatap wanita didepannya dengan senyuman kemenangan.

“Aish kau ini! Bagaimana kau tidak bisa mengenali atasanmu sendiri. Hah!!” inspektur Kim menjitak kepala bawahannya itu geram.

“Inspektur Kim~” rajuk Hyo-Hwa memegangi belakang kepalanya.

“Mwo?” ancam inspektur Kim dengan mata melotot padanya.

“Tolong maafkan kelalaian bawahanku. Kepala kepolisian Cho.” Ujarnya tersenyum.

Hyo-Hwa menggurutu tidak jelas sambil melihat inspektur Kim.

“Cepat minta maaf.”

Belum sempat Hyo-Hwa menjawab, inspektur Kim sudah mendorong kepalanya menunduk. Membuatnya lagi-lagi menggerutu kesal.

KyuHyun hanya tersenyum melihat kejadian dihadapannya.

“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu.” Ujar KyuHyun merasa urusannya sudah selesai.

KyuHyun baru saja berjalan beberapa langkah tapi langkahnya terhenti karena suara Hyo-Hwa.

“Tunggu.” Ujar Hyo-Hwa berusaha memberanikan dirinya.

Hyo-Hwa mendekati KyuHyun kemudian berdiri tepat didepan pria itu.

“The Sancy Diamond. Kau pasti masih menyimpannya kan?” ujar Hyo-Hwa masih bersikeras ingin menangkapnya.

“Park Hyo-Hwa!” tegur inspektur Kim kehilangan kesabaran.

“Pasti kau menyembunyikannya disakumu atau dalaman bajumu itu. Bagaimana kalau aku menggeledahmu?” gertak wanita itu.

KyuHyun hanya tersenyum tidak merasa sedikitpun.

“Kau tidak keberatan? Baiklah.”

Hyo-Hwa baru saja akan menyentuh jas yang digunakan KyuHyun saat tiba-tiba saja pria itu menangkap pergelangan tangannya.

“Mana surat perintah penangkapannya. Nona detektif?”

“Jangan melakukan sesuatu yang meyalahi kode etik. Itu hanya akan menyusahkanmu.”

Skak mat. Hyo-Hwa kalah telak. Dia bukan orang biasa.

KyuHyun melepaskan genggaman tangannya perlahan melihat wanita itu tidak membalas atau membantah perkataanya tadi.

Dia membalikkan badannya, terkesan tidak peduli dengan seluruh tatapan bawahannya ditempat itu. Walau padahal hatinya sangat senang. Berhasil mengalahkan semua kenyataan yang dikemukakan wanita itu.

Lagi-lagi dia tersenyum licik, bukan melanjutkan langkahnya keluar malah berbalik dan menghampiri Hyo-Hwa.

“Ada sesuatu yang tertinggal.” Jelasnya.

Dia merogoh saku celananya dan megeluarkan sebuah pena. Pena sama yang digunakan Hyo-Hwa untuk menusuknya tadi.

Hyo-Hwa tidak bisa menyembunyikan ekspersi shocknya saat pria itu memperlihatkan penanya. Pria itu benar-benar… menyebalkan.

KyuHyun kembali tersenyum sambil mendekatkan kepalanya disamping wanita itu. Dia berbisik pelan, mengurangi kemungkinan agar tidak ada yang mendengar ucapannya pada Hyo-Hwa.

“Bagaimana nona detektif? Menyenangkan bukan?”

“Catch me… if you can.”

TBC

Kyaaaaa!!!!!! *histeris sendiri* Author balik dengan ff yang sangat membosankan. Mianhae readers~. Jangan timpuk saya kalau readers tidak suka. *sembunyi dibelakang kyu*.

Sebenarnya ide untuk ini ff udh lama dr pertama lhat teaser drama musical kyuhyun oppa. Tapi susah buat nuangin kecerita, mulai dari kasus sampai semua dialognya.

Maaf kalau readers kecewa sama ceritanya *deep bow* Jujur sya ngerasa sangat tdk enak krn post ff lama2. Tp mau gmna lg otak sya mampet dan gk ada ide baru utk ff romance spt biasanya.

Hope you’ll enjoy this ff. saranghae~ *bow

Tentang iklan-iklan ini

53 responses to “Catch Me If You Can (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 120 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: